Pengertian, Dalil, Macam, Penerapan [Lengkap]


Syaja’ah – Sudah pahamkan kalian mengenai sifat Syaja’ah? Untuk lebih memahaminya, mari kita bahas sikap syaja’ah ini mulai dari pengertian syaja’ah secara lengkap sampai penerapannya di kehidupan kita.

Dalam menjalani kehidupan di dunia, tentu ada pasang surutnya. Mulai dari kebahagiaan hingga kesedihan niscaya kita pernah alami. Hal tersebut memang sebuah kewajaran saat kita hidup.

Namun, meskipun sudah memahami konsepnya, terkadang rasa takut tersebut memang muncul tanpa sepengetahuan kita. Karena hal itulah, kita harus mempunyai sifat syaja’ah dalam diri kita.

Syaja’ah merupakan salah satu sikap terpuji yang mampu membantu kita dalam menghadapi kesulitan hidup.

Lantas, apa itu syaja’ah? Seberapa pentingkah syaja’ah untuk kehidupan kita? Simak jawabannya dibawah ini.

Pengertian Syaja’ah

Sebelum mengenal secara lebih mendalam, mari kita pahami sifat syaja’ah ini dari pengertiannya terlebih dahulu, baik itu menurut bahasa maupun istilah.

Syaja’ah Menurut Bahasa

Menurut bahasa, syaja’ah dalam bahasa Arab memiliki arti berani atau teguh. Syaja’ah adalah sifat pertengahan antara AlJubn (Pengecut) dan Tahawwur (Berani tanpa Perhitungan).

Syaja’ah Menurut Istilah

Adapun berdasarkan istilah, Syaja’ah artinya keteguhan hati dan kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan hal yang benar secara bijaksana dan terpuji.

Sikap syaja’ah menjadi salah satu ciri yang perlu dimiliki oleh orang yang istiqomah di jalan Allah. Mereka akan berani menyampaikan kebenaran walaupun itu pahit. Hal ini alasannya mereka yakin dengan derma Allah.

Imam Syahid Hasan Al-Banna mendefinisikan Syaja’ah sebagai ‘Azhimul Ihtimal yang artinya besarnya daya pikul dan daya tahan. Ia akan bersabar ketika diberi ujian, dan ia akan bersyukur ketika beliau diberi kenikmatan.

Dalil Syaja’ah

Syaja’ah sangat disarankan untuk menjadi salah satu sifat yang dimiliki oleh orang muslim.

Allah swt. Berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), kalau kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S Ali Imran: 139)

Pada ayat tersebut, Allah melarang umat manusia untuk memiliki sikap lemah. Kita diharuskan mempunyai perilaku berani.

Hal ini alasannya adalah manusia ialah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah jikalau dibandingkan dengan makhluk lainnya. Selain itu, insan juga akan memiliki kedudukan tertinggi apabila beriman dan bertakwa pada Allah.

Dalam kehidupan ketika ini, berbagai ditemukan kecurangan-kecurangan yang terjadi. Jika umat islam mempunyai sifat syaja’ah, maka ia akan berani melaporkan hal tersebut, meskipun hal tersebut mampu saja membawa beliau dalam bahaya.

Allah swt. berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: “maka tetaplah kau pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia maha melihat apa yang kau kerjakan.” (Q.S Hud: 112)

Macam Macam Syaja’ah

Syaja’ah terbagi kedalam 2 macam, antara lain:

Syaja’ah Harbiyyah

Syaja’ah Harbiyyah yaitu bentuk keberanian yang tampak secara eksklusif. Misalnya keberanian kaum muslimin zaman dahulu untuk berjihad (perang) demi membela agama.

Syaja’ah Nafsiyyah

Syaja’ah Nafsiyyah ialah keberanian secara mental seseorang. Ia akan berani dalam menghadapi bahaya dan penderitaan jika hal tersebut demi menegakkan keadilan.

Perwujudan Sikap Syaja’ah

Dari kedua macam sifat syaja’ah diatas, syaja’ah mampu terimplementasikan menjadi beberapa bentuk. Berikut diantaranya:

Quwwatul Ihtimal (Daya Tahan yang Besar)

Seseorang terbukti mempunyai sifat syaja’ah ketika dia mampu bersabar dan siap untuk menghadapi kesulitan, penderitaan, ancaman, ataupun yang lainnya ketika berjuang di jalan Allah SWT.

Banyak cerita-kisah perjuangan para teman yang menceritakan perihal citra hal ini. Misalnya saja Bilal bin Amr bin Yasir yang mengalami penyiksaan supaya mengingkari keimanannya. Namun, ia tetap teguh pada keimanannya.

Ash-Sharahah fil Haq (Terus Terang dalam Kebenaran)

Berani untuk berterus jelas dalam kebenaran menjadi salah satu implementasi lainnya dari sifat syaja’ah (berani). Abu Dzar r.a pernah diberi wejangan oleh Rasulullah saw. Diantara wejangannya yaitu:

قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

“Katakan kebenaran, sekalipun itu pahit” (HR. Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 4737)

Kitmanu As-sirri (Memegang Rahasia)

Dalam memegang diam-diam, tentunya butuh keberanian pada diri kita. Apalagi gosip yang kita pegang tersebut terindikasi berbahaya jika ada kebocoran. Dengan menjaga belakang layar, seseorang juga menjaga amanah yang telah diberikan oleh orang lain.

Di kalangan sobat Rasulullah saw pun tidak banyak yang dipercaya sebagai pemegang rahasia. Salah satu sobat yang mampu menjaga rahasia yakni Hudzaifah Ibnul Yaman ra. yang sangat dikenal akan dengan sebutan Shahibus Sirri (pemegang belakang layar).

Hudzaifah ialah teman yang Rasulullah beritahukan mengenai semua orang-orang munafik yang ada. Selama hidupnya, Hudzaifah ini menjaga informasi mengenai hal ini bahkan kepada khalifah yang sedang menjabat saat itu (Khalifah Umar).

Al-I’tirafu bil Khatha’i (Mengakui Kesalahan)

Orang yang siap dan mau mengakui kesalahannya menjadi salah satu ciri orang yang memiliki sifat syaja’ah (berani).

Mengakui kesalahan memang tidak gampang. Kita harus siap untuk dicaci, dimaki, dikucilkan ataupun hal lain yang diakibatkan alasannya kesalahan yang pernah kita perbuat.

Dibutuhkan keberanian yang besar untuk mengakui kesalahan dan siap untuk menerima konsekuensi atas kesalahan yang kita lakukan tersebut.

Al-Inshafu min Adz-Dzati (Bersikap Objektif pada Diri Sendiri)

Ada sebagian orang yang menganggap dirinya lebih dari orang lain (over confidence). Ada juga sebagian orang yang menganggap dirinya lebih udik dibandingkan orang lain (under confidence).

Jika hal tersebut muncul dalam diri seseorang, tentunya tidak proporsional dan tidak objektif terhadap diri sendiri. Orang yang bersifat syaja’ah akan menilai dirinya secara objektif dan meyakini bahwa dirinya memiliki kekurangan dan kelebihan.

Milku An-Nafsi ‘inda Al-Ghadhabi (Menguasai Diri Saat Marah)

Salah satu ciri orang yang memiliki sifat syaja’ah yaitu ketangguhan ia dalam melawan hawa nafsu dan amarah. Meskipun dalam kondisi yang emosional, dia masih dapat berpikir jernih.

Ia bisa melampiaskan kemarahannya, namun beliau arahkan pada hal yang sesuai.

Cara Menanamkan Sikap Syaja’ah

Ada beberapa cara untuk menanamkan sifat keberanian ini kepada diri kita. Antara lain:

Al-Imanu bil Ghaib (Iman Kepada yang Ghaib)

Dengan kepercayaan kepada hal yang ghaib, kita akan yakin terhadap pertolongan Allah.

Allah berfirman:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Jika Allah menolong kau, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jikalau Allah membiarkan kau (tidak memberi derma), maka siapakah gerangan yang mampu menolong kau (selain) dari Allah sehabis itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal.” (QS. Ali Imran, 3: 160)

Selain yakin akan tunjangan Allah, beliau pun akan percaya akan apapun yang sudah ditentukan oleh Allah.

Allah berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan kalau Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan bila Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am, 6: 17)

Dengan dogma akan hal-hal ghaib mirip ini, maka akan muncul keberanian pada diri seorang muslim. Keberanian ini dibentengi oleh keimanan dan ke tawakkal-an pada Allah swt.

Al-Mujahadatu ‘alal Khauf (Menaklukkan Rasa Takut)

Rasa takut sebenarnya merupakan sifat yang dimiliki oleh setiap insan. Misalnya takut ketinggian, takut karam, takut terbakar ataupun ketakutan yang lainnya. Namun, ketakutan ini harus berada dibawah Khauf Syar’i takut kepada Allah Ta’ala.

Setiap rasa takut yang muncul pada dirinya, ia akan memasrahkannya kepada Allah Ta’ala. Dengan begitu, beliau akan mampu mengendalikan rasa takutnya. Melawan ketakutan akan kedzaliman menjadi salah satu pembuktian kesungguhan dalam taat dan keimanan.

Allah Ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kau berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kau tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 216)

Pentingnya Tauritsul Khairiyyah (Pewarisan Kebaikan)

Jika kita menginginkan penerus kita menjadi seseorang yang pemberani melawan kebathilan, maka wariskanlah sifat tersebut kepada mereka. Bagaimana caranya? Dengan menunjukkan contoh dan contoh kepada mereka mengenai keberanian.

Abul Ala Al Maududi menegaskan bahwa untuk menerima keturunan dan generasi yang lebih baik, maka jangan lakukan sifat-sifat rendahan kepada mereka. Berikan teladan yang baik kepada mereka.

Ingatlah, kebaikan akan mewariskan suatu kebaikan. Keburukan akan mewarisi suatu keburukan pula.

Ash-Shabru ‘ala Ath-Tha’ah (Bersabar dalam Ketaatan)

Kokohnya sifat keberanian ini ditopang oleh kesabaran dalam diri. Tanpa kesabaran, keberanian hanyalah bentuk emosi semata.

Ketika syaja’ah ditegakkan, tentu akan muncul tantangan, ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, seimbangkanlah antara kesabaran dan keberanian.

Dalam suatu hadits dari Khabab, beliau berkata:

أَتَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ مُتَوَسِّدًا بُرْدَةً لَهُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَنَا وَاسْتَنْصِرْهُ قَالَ فَاحْمَرَّ لَوْنُهُ أَوْ تَغَيَّرَ فَقَالَ لَقَدْ كَانَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ حُفْرَةٌ وَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ مَا يَصْرِفُهُ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عَظْمٍ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ عَنْ دِينِهِ وَلَيُتِمَّنَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخْشَى إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

“Kami mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di akrab ka’bah dengan selimut trend dinginnya, kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah untuk kami dan mintalah tolong padanya!’ Khabab berkata, ‘Maka wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah merah. Beliau kemudian bersabda: ‘Sungguh telah berlalu pada orang-orang sebelum kalian seorang yang digalikan lubang untuknya, kemudian diletakkan gergaji di atas kepalanya sampai membelahnya, namun hal itu tidak merubah keyakinannya. Ada yang disisir dengan sisir besi panas hingga terkoyak dagingnya, namun itu tidak mengubah dari agamanya. Dan sungguh, benar-benar Allah Tabaaraka Wa Ta’ala akan menyempunakan urusan (agama) ini hingga ada seorang pengendara berjalan dari Shan’a menuju Hadarmaut dalam keadaan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau kawatir kambingnya akan dimakan serigala. Akan tetapi kalian terburu-buru.” (HR. Ahmad)

Keyakinan pada Al-Ajru min Allah (Pahala dari Allah Ta’ala)

Dengan selalu mengharap ridha dan pahala dari Allah swt membuat seorang muslim menjadi seseorang yang pemberani. Ia akan tetap berkomitmen untuk berinfak dan berjuang di jalan Allah.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyampaikan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ lalu mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan menyampaikan): ‘Janganlah kau merasa takut dan janganlah kamu merasa murung; dan bergembiralah kau dengan (memperoleh) nirwana yang telah dijanjikan Allah kepadamu’”. (QS. Al-Fushilat, 41: 30)

Demikianlah pembahasan kita mengenai salah satu sifat yang perlu dimiliki oleh seorang muslim, yakni Syaja’ah. Semoga bermanfaat untuk teman-teman.

Untuk membaca lebih lengkap mengenai pembahasan agama islam, Kamu mampu mengunjungi alhadiibrahim.com

Mengenal Sifat Qana’Ah


Sifat Qana’ah – Dalam menjalani kehidupan, seringkali kita tidak qana’ah. Kita merasa tak pernah puas untuk memenuhi cita-cita dan hasrat kita. Selalu merasa ada yang kurang pada hal-hal yang sudah kita dapatkan.

Selalu merasa iri pada suatu hal yang didapatkan orang lain dan tidak kita dapatkan. Kita lupa untuk bersyukur akan nikmat Allah Ta’ala yang sudah diberikan pada kita setiap harinya.

Hal diatas memang salah satu kecenderungan dari sifat dasar insan. Dimana manusia cenderung tak pernah puas akan hal-hal yang sudah beliau dapatkan.

Meskipun hal tersebut manusiawi, namun dalam islam hal tersebut tidak dianjurkan. Rasullullah saw. telah mengajarkan umatnya bagaimana cara menyikapi mengenai harta benda, adalah dengan bersifat Qana’ah (Puas dan Rela).

Qana’ah inilah yang akan kita bahas secara lengkap pada kesempatan kali ini. Mari pribadi kita bahas satu per satu.

Pengertian Sifat Qana’ah

Pengertian Qana'ah

Hidup Qana’ah (sumber:bimbinganislam.com)

Qana’ah yakni suatu sikap rela menerima dan merasa cukup dengan hasil yang didapatkan. Dengan mempunyai rasa qana’ah, ia akan dijauhkan dari merasa kekurangan dan tidak puas.

Kerelaan seseorang akan hasil yang didapatkan merupakan hasil dari menerima segala hal yang sudah menjadi ketentuan Allah Ta’ala. Namun, bukan berarti seseorang hanya bersikap pasif untuk menunggu tanpa berikhtiar.

Justru sikap ini muncul sehabis ia melakukan usaha terbaiknya dalam suatu hal. Masalah balasannya, ia akan rela dan cukup akan hasil yang didapatkannya.

Sifat Qana’ah ialah salah satu sifat muslim yang perlu dimiliki oleh kita. Jangan sampai, hanya alasannya adalah dunia kita melupakan akhirat.

Dalil Mengharuskan Sifat Qana’ah

Dalil Qana'ah

Dalil Qana’ah (sumber:tebuireng.online)

Sifat qana’ah ini harus dimiliki oleh semua umat muslim. Dengan mempunyai sifat ini, kita akan selalu merasa cukup dengan apa yang kita miliki dan kita takkan pernah merasa iri dengan sesuatu yang orang lain miliki.

Selain itu, hati kita juga akan merasa hening dan selalu bersyukur.

Dalam salah satu hadits-nya, Rasulullah saw. bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani menyampaikan bahwa hadits ini shahih).

Untuk seseorang yang memiliki sifat qana’ah, Allah Ta’ala pun akan memberikan kesannya. Allah akan menawarkan kita kehidupan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik pria maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka bahwasanya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan bergotong-royong akan Kami beri akibat kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl:97)

Sifat Qana’ah

Sikap Qana'ah

Sikap Qana’ah (sumber:thepfa.com)

Sikap qana’ah ini bekerjasama erat dengan rasa syukur. Perbedaannya, perilaku qana’ah lebih mengedepankan pada rasa rela mendapatkan ketentuan Allah Ta’ala. Adapun rasa syukur, mengedepankan rasa terima kasih dan harapan kepada Allah Ta’ala.

Kedua sikap ini saling terkait dan berjalan beriringan.

Meskipun dikatakan rela, namun perilaku ini tidak serta merta menciptakan kita menerima tanpa berusaha. Justru rasa qana’ah ini muncul sehabis berikhtiar semaksimal mungkin sebelumnya.

Selain itu, janganlah kita memandang keatas untuk urusan dunia. Pandanglah kebawah kepada orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita. Dengan seperti itu, maka sifat qana’ah dan rasa syukur akan tertanam kuat dalam diri kita.

Sebaliknya, pandanglah keatas untuk urusan alam baka. Dengan mirip itu, maka kita kepercayaan kita akan selalu menguat dan lebih bersemangat dalam berzakat saleh.

Rasulullah saw. bersabda dalam salah satu haditsnya, yang berbunyi:

عن ابى هريرة رضى الله عنه : انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عليكم. (متفق عليه

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam persoalan harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam dilema ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim, no. 2963).

Manfaat Memiliki Sifat Qana’ah

Manfaat Qana'ah

Manfaat Qana’ah (sumber:pinterest.com)

Dengan memiliki sifat qana’ah, kita juga akan mendapatkan beberapa manfaat yang mampu dirasakan baik di dunia maupun di akhirat. Berikut beberapa manfaat yang bisa kita miliki.

Mendapatkan Dunia Seluruhnya

Manfaat pertama yang mampu didapatkan dengan rasa qana’ah adalah mempunyai dunia seluruhnya.

Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kalian menerima rasa kondusif di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan mempunyai masakan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa menyampaikan bahwa hadits ini hasan gharib).

Menjadi Orang yang Beruntung

Manfaat selanjutnya dari sifat qana’ah yakni menjadi salah satu orang yang beruntung di mata Allah Ta’ala dan Rasulullah saw.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).

Praktis Bersyukur

Seperti yang sudah disinggung diatas, dengan memiliki sifat qana’ah akan membuat kita selalu bersyukur akan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Sebagaimana hadits yang sudah disebutkan diatas (HR. Muslim, no. 2963)

Menjauhkan dari Sifat Hasad (Iri dan Cemburu akan Nikmat Orang Lain)

Jika kita sudah merasa cukup akan nikmat Allah yang telah diberikan, kenapa kita mampu cemburu dengan nikmat yang orang lain rasakan?

Dengan adanya sifat qana’ah yang membentengi kita, rasa iri dan cemburu akan nikmat orang lain itu sudah tidak akan mungkin ada.

Sifat hasad ialah salah satu sifat yang dilarang dimiliki oleh umat muslim. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hasad ialah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang menjadi sasaran hasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).

Adapun berdasarkan kebanyakan ulama, hasad ialah menginginkan suatu nikmat orang lain itu hilang. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 17:269)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيُصِيْبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا دَاءُ الأُمَمِ ؟ قَالَ : الأَشْرُ، وَالْبَطْرُ والتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُوْنَ الْبَغْيُ

Umatku akan ditimpa penyakit aneka macam umat.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja penyakit umat-umat (terdahulu)?” Rasulullah berkata, “Kufur Nikmat, menyalahgunakan nikmat, saling berlomba memperbanyak dunia, saling berbuat najsy (mengelabui dalam penawaran, pen.), saling memusuhi, dan saling hasad-menghasadi hingga timbulnya sikap melampaui batas (kezaliman).” (HR. Al-Hakim, 4: 168 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 2/275/9173. Al-Hakim menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk perawi Imam Muslim. Imam Adz-Dzahabi menyetujui sanadnya yang shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 680)

Mengatasi Berbagai Problema Hidup

Seseorang yang memiliki sifat qana’ah, dia akan menyesuaikan kebutuhan hidupnya dengan standar kemampuan yang ia miliki. Dengan memiliki batas yang tepat, maka ia tidak akan berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Terakhir, perlu diingat bahwa orang yang mempunyai sifat qana’ah ialah orang-orang yang terpuji dan beruntung. Bahkan, Rasulullah saw. meminta sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dalam salah satu do’anya.

Berikut salah satu do’a yang Rasulullah saw. pernah lantunkan.

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَ

Ya Allah, saya meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721, dari ‘Abdullah).

Demikianlah pembahasan kita mengenai sifat Qana’ah yang perlu kita miliki dan selalu jaga. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

Untuk mendapatkan bahasan-bahasan menarik seputaran agama islam, Kamu juga dapat mengunjungi majelisazzikra.com.

Pengertian Sikap Tasamuh Serta Dalil, Fungsi Dan Misalnya [Lengkap]


Pengertian Tasamuh – Salah satu sikap terpuji yang perlu dimiliki oleh seorang muslim ialah sikap tasamuh. Sikap ini perlu dimiliki jika kita hidup bermasyarakat.

Dengan adanya sifat tasamuh, masyarakat akan saling menghargai dan menghormati. Dengan sifat tasamuh, bentrokan dan kesenjangan antar tetangga mampu dihindari.

Pada kesempatan kali ini, kita akan mengenal lebih akrab ihwal sifat tasamuh ini. Mulai dari pengertian, dalil, fungsi, dan contoh perilaku tasamuh dalam kehidupan sehari-hari kita.

Langsung saja kita bahas satu per satu.

Pengertian Tasamuh

Secara bahasa, tasamuh ini berarti toleransi dan bermurah hati atau tenggang rasa. Sedangkan tasamuh secara istilah yaitu saling menghormati dan menghargai antara insan dengan manusia yang lain.

Secara umum, pengertian Tasamuh ialah salah satu budbahasa terpuji dalam pergaulan, dimana terdapat rasa saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lainnya. Namun masih dalam batas-batas yang digariskan oleh fatwa islam.

Menurut KBBI, tasamuh atau toleransi yakni suatu perilaku menghargai pendirian seseorang (pendapat, pandangan, doktrin, kebiasaan, dan kelakuan) yang berbeda dan bertentangan dengan pendirian kita sendiri.

Dalam sikap tasamuh dan toleransi ini, mengandung sifat-sifat lainnya. Misalnya saja sifat tulus, empati, menahan diri, dan tak memaksakan kehendak kepada orang lain.

Sikap Tasamuh

Sikap Tasamuh

Sikap Tasamuh (sumber: romadecade.org)

Manusia dikenal sebagai makhluk sosial bukan makhluk individu. Oleh karena itu, insan tak mampu hidup sendiri tanpa perlindungan insan lainnya. Disinilah pentingnya sikap tasamuh, agar tercipta rasa saling menghargai dan menghormati antar sesama.

Ketika bermasyarakat dan bersosialisasi, tentu masuk akal apabila timbul beberapa percikan kontradiksi dan permasalahan. Mengingat, masing-masing orang mempunyai sifat dan tingkah laris yang berbeda-beda. Apabila tidak ditanggulangi dengan benar, tentu akan menjadi berbahaya.

Sikap tasamuh inilah yang menjadi solusi untuk menghindari kesalahpahaman dan kontradiksi yang lebih besar di kemudian hari.

Dengan mempunyai perilaku tasamuh, kita akan menuntaskan masalah dengan pikiran yang hambar (tidak mengedepankan emosi) sehingga menghasilkan solusi terbaik.

Dalil Sikap Tasamuh

"Dalil

Dalam kehidupan sehari-hari, ada baiknya untuk kita sesama manusia saling bekerja bersama dalam kebaikan, saling menghargai, dan saling toleransi.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan gotong royong dalam berbuat doa dan penlanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, bantu-membantu Allah amat berat siksa-Nya.” (Q.S. Al-Maidah: 2)

Dalam salah satu hadits, Rasulullah saw. mengharapkan supaya umat muslim itu saling menghormati dan saling bersaudara.

Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah prasangka jelek, sebab prasangka jelek ialah ucapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari kesalahan, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR. Bukhari)

Dari hadits diatas, terdapat dua pesan yang tersirat yang bisa kita ambil, yakni:

  1. Sesama muslim itu bersaudara. Oleh alasannya adalah itu, sepatutnya kita saling menjaga kehormatan dan martabat sesama saudara sendiri.
  2. Agar kekerabatan persaudaraan tetap terjaga dengan baik, maka Rasulullah saw. melarang umatnya untuk saling membenci, mendengki, memusuhi, mencela, mencari kesalahan, dan yang lainnya.

Toleransi Antar Umat Beragama

Toleransi Antar Umat Beragama

Toleransi Antar Umat Beragama

Dalam menjalin kekerabatan antar umat beragama, perilaku tasamuh pun perlu kita tanamkan. Kita saling menghargai apa yang mereka yakini. Namun, perilaku menghargai kita harus tetap sesuai dengan yang diajarkan oleh islam (tidak berentangan).

Sebagaimana telah Allah Ta’ala jelaskan dalam Q.S. Al-Kafirun ayat 1-6. Masing-masing agama mempunyai cara ibadah yang berbeda. Kita dilarang memaksakan iktikad kita kepada mereka.

Selain dalam surat Al-Kafirun ayat 1-6, beberapa ayat lain yang mencerimkan mengenai toleransi antar umat beragama ada pada surat Al-Kahfi: 29 dan surat Yunus: 40-41.

Semoga kita memiliki sifat tasamuh, sehingga kerukunan antar umat beragama mampu tercapai.

Manfaat Tasamuh

Dengan mempunyai sifat tasamuh, tentu ada manfaat yang dihasilkan. Berikut beberapa diantaranya:

  • Mempererat persatuan dan kesatuan persaudaraan antar manusia.
  • Mengembangkan perilaku menghargai dan menghormati serta empati terhadap sesama manusia.
  • Menghindarkan diri dari tindakan kekerasan dan kekacauan.
  • Mempermudah kita dalam hidup bermasyarakat.
  • Meningkatkan derajat manusia didepan orang lain maupun di hadapan Sang Pencipta.
  • Menjaga dan menghormati hak dan kewajiban orang lain.
  • Menjaga norma-norma agama, sosial, dan budbahasa istiadat setempat.
  • Menghadirkan kasih sayang terhadap sesama.
  • Menumbuhkan perilaku bertanggung jawab terhadap kehidupan di lingkungan masyarakat.

Fungsi Tasamuh

Setiap anutan dalam agama Islam, tentu bukanlah tanpa alasannya. Masing-masing mempunyai hikmah maupun fungsi. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah saw. bersabda:

“Siapa yang membantu menghilangkan kesulitan orang mukmin satu kesulitan di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan kesulitan dia dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memberikan fasilitas kepada orang yang menghadapi kesulitan, Allah akan memberikan fasilitas kepadanya di dunia dan di darul baka.” (HR. Muslim)

Hadits diatas membuktikan bahwa kalau kita ingin menghilangkan kesulitan kita, maka bantulah orang lain untuk menghilangkan kesulitannya. Dengan memudahkan urusan orang lain, maka Allah Ta’ala akan memudahkan urusan kita.

Secara garis besar, berikut beberapa fungsinya.

  1. Memiliki banyak saudara.
  2. Urusan yang dilakukan menjadi lebih gampang.
  3. Kesulitan yang dihadapi mudah untuk diselesaikan.
  4. Suasana dengan orang lain menjadi lebih erat dan saling menghormati.

Contoh Penerapan Sikap Tasamuh

Berikut beberapa contoh bagaimana tasamuh diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita.

  • Berlapang dada dan menerima semua perbedaan.
  • Memberikan kebebasan bagi orang lain untuk memeluk keyakinannya sendiri.
  • Menghormati orang lain yang sedang beribadah.
  • Tetap bergaul dan bersikap baik terhadap sobat meskipun memiliki iman yang berbeda.
  • Tidak memaksa orang lain mengikuti dogma kita.
  • Tidak membenci dan menyakiti orang-orang yang berbeda dogma dengan kita.
  • Tidak mendiskriminasikan orang-orang, terutama dalam hal doktrin.
  • Tidak mengganggu orang lain yang berbeda keyakinan dikala mereka beribadah.

Demikianlah pembahasan kita kali ini mengenai sikap tasamuh. Praktis-mudahan kita mampu memelihara sikap tasamuh ini dalam diri kita. Dengan begitu, kerukunan antar umat mampu tercapai.

Semoga bermanfaat dan Sampai Jumpa di Kesempatan Berikutnya.

Pengertian, Dalil, Macam, Penerapan [Lengkap]


Syaja’ah – Sudah pahamkan kalian mengenai sifat Syaja’ah? Untuk lebih memahaminya, mari kita bahas sikap syaja’ah ini mulai dari pengertian syaja’ah secara lengkap hingga penerapannya di kehidupan kita.

Dalam menjalani kehidupan di dunia, tentu ada pasang surutnya. Mulai dari kebahagiaan sampai kesedihan niscaya kita pernah alami. Hal tersebut memang sebuah kewajaran saat kita hidup.

Namun, meskipun sudah memahami konsepnya, terkadang rasa takut tersebut memang muncul tanpa sepengetahuan kita. Karena hal itulah, kita harus mempunyai sifat syaja’ah dalam diri kita.

Syaja’ah merupakan salah satu perilaku terpuji yang dapat membantu kita dalam menghadapi kesulitan hidup.

Lantas, apa itu syaja’ah? Seberapa pentingkah syaja’ah untuk kehidupan kita? Simak jawabannya dibawah ini.

Pengertian Syaja’ah

Sebelum mengenal secara lebih mendalam, mari kita pahami sifat syaja’ah ini dari pengertiannya terlebih dahulu, baik itu menurut bahasa maupun istilah.

Syaja’ah Menurut Bahasa

Menurut bahasa, syaja’ah dalam bahasa Arab mempunyai arti berani atau teguh. Syaja’ah yaitu sifat pertengahan antara AlJubn (Pengecut) dan Tahawwur (Berani tanpa Perhitungan).

Syaja’ah Menurut Istilah

Adapun berdasarkan istilah, Syaja’ah artinya keteguhan hati dan kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan hal yang benar secara bijaksana dan terpuji.

Sikap syaja’ah menjadi salah satu ciri yang perlu dimiliki oleh orang yang istiqomah di jalan Allah. Mereka akan berani menyampaikan kebenaran walaupun itu pahit. Hal ini alasannya adalah mereka yakin dengan derma Allah.

Imam Syahid Hasan Al-Banna mendefinisikan Syaja’ah sebagai ‘Azhimul Ihtimal yang artinya besarnya daya pikul dan daya tahan. Ia akan bersabar saat diberi ujian, dan ia akan bersyukur ketika ia diberi kenikmatan.

Dalil Syaja’ah

Syaja’ah sangat disarankan untuk menjadi salah satu sifat yang dimiliki oleh orang muslim.

Allah swt. Berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: “Janganlah kau bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), kalau kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S Ali Imran: 139)

Pada ayat tersebut, Allah melarang umat manusia untuk mempunyai sikap lemah. Kita diharuskan memiliki sikap berani.

Hal ini alasannya adalah insan adalah makhluk paling tepat yang diciptakan oleh Allah jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Selain itu, manusia juga akan mempunyai kedudukan tertinggi apabila beriman dan bertakwa pada Allah.

Dalam kehidupan ketika ini, banyak sekali ditemukan kecurangan-kecurangan yang terjadi. Jika umat islam mempunyai sifat syaja’ah, maka dia akan berani melaporkan hal tersebut, meskipun hal tersebut mampu saja membawa beliau dalam ancaman.

Allah swt. berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: “maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kau dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia maha melihat apa yang kau kerjakan.” (Q.S Hud: 112)

Macam Macam Syaja’ah

Syaja’ah terbagi kedalam 2 macam, antara lain:

Syaja’ah Harbiyyah

Syaja’ah Harbiyyah yakni bentuk keberanian yang tampak secara pribadi. Misalnya keberanian kaum muslimin zaman dahulu untuk berjihad (perang) demi membela agama.

Syaja’ah Nafsiyyah

Syaja’ah Nafsiyyah adalah keberanian secara mental seseorang. Ia akan berani dalam menghadapi bahaya dan penderitaan bila hal tersebut demi menegakkan keadilan.

Perwujudan Sikap Syaja’ah

Dari kedua macam sifat syaja’ah diatas, syaja’ah dapat terimplementasikan menjadi beberapa bentuk. Berikut diantaranya:

Quwwatul Ihtimal (Daya Tahan yang Besar)

Seseorang terbukti mempunyai sifat syaja’ah saat ia bisa bersabar dan siap untuk menghadapi kesulitan, penderitaan, bahaya, ataupun yang lainnya ketika berjuang di jalan Allah SWT.

Banyak dongeng-cerita usaha para sahabat yang menceritakan perihal gambaran hal ini. Misalnya saja Bilal bin Amr bin Yasir yang mengalami penyiksaan semoga mengingkari keimanannya. Namun, ia tetap teguh pada keimanannya.

Ash-Sharahah fil Haq (Terus Terang dalam Kebenaran)

Berani untuk berterus terang dalam kebenaran menjadi salah satu implementasi lainnya dari sifat syaja’ah (berani). Abu Dzar r.a pernah diberi wejangan oleh Rasulullah saw. Diantara wejangannya ialah:

قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

“Katakan kebenaran, sekalipun itu pahit” (HR. Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 4737)

Kitmanu As-sirri (Memegang Rahasia)

Dalam memegang rahasia, tentunya butuh keberanian pada diri kita. Apalagi gosip yang kita pegang tersebut terindikasi berbahaya jikalau ada kebocoran. Dengan menjaga belakang layar, seseorang juga menjaga amanah yang telah diberikan oleh orang lain.

Di kalangan sobat Rasulullah saw pun tidak banyak yang dipercaya sebagai pemegang rahasia. Salah satu sobat yang bisa menjaga diam-diam yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman ra. yang sangat dikenal akan dengan sebutan Shahibus Sirri (pemegang rahasia).

Hudzaifah adalah teman yang Rasulullah beritahukan mengenai semua orang-orang munafik yang ada. Selama hidupnya, Hudzaifah ini menjaga isu mengenai hal ini bahkan kepada khalifah yang sedang menjabat ketika itu (Khalifah Umar).

Al-I’tirafu bil Khatha’i (Mengakui Kesalahan)

Orang yang siap dan mau mengakui kesalahannya menjadi salah satu ciri orang yang memiliki sifat syaja’ah (berani).

Mengakui kesalahan memang tidak mudah. Kita harus siap untuk dicaci, dimaki, dikucilkan ataupun hal lain yang diakibatkan sebab kesalahan yang pernah kita perbuat.

Dibutuhkan keberanian yang besar untuk mengakui kesalahan dan siap untuk mendapatkan konsekuensi atas kesalahan yang kita lakukan tersebut.

Al-Inshafu min Adz-Dzati (Bersikap Objektif pada Diri Sendiri)

Ada sebagian orang yang menganggap dirinya lebih dari orang lain (over confidence). Ada juga sebagian orang yang menganggap dirinya lebih kolot dibandingkan orang lain (under confidence).

Jika hal tersebut muncul dalam diri seseorang, tentunya tidak proporsional dan tidak objektif terhadap diri sendiri. Orang yang bersifat syaja’ah akan menilai dirinya secara objektif dan meyakini bahwa dirinya memiliki kekurangan dan kelebihan.

Milku An-Nafsi ‘inda Al-Ghadhabi (Menguasai Diri Saat Marah)

Salah satu ciri orang yang memiliki sifat syaja’ah adalah ketangguhan beliau dalam melawan hawa nafsu dan amarah. Meskipun dalam kondisi yang emosional, beliau masih dapat berpikir jernih.

Ia mampu melampiaskan kemarahannya, namun dia arahkan pada hal yang sesuai.

Cara Menanamkan Sikap Syaja’ah

Ada beberapa cara untuk menanamkan sifat keberanian ini kepada diri kita. Antara lain:

Al-Imanu bil Ghaib (Iman Kepada yang Ghaib)

Dengan doktrin kepada hal yang ghaib, kita akan yakin terhadap derma Allah.

Allah berfirman:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Jika Allah menolong kamu, maka tak ialah orang yang dapat mengalahkan kamu; bila Allah membiarkan kau (tidak memberi santunan), maka siapakah gerangan yang mampu menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal.” (QS. Ali Imran, 3: 160)

Selain yakin akan perlindungan Allah, beliau pun akan percaya akan apapun yang sudah ditentukan oleh Allah.

Allah berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan kalau Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jikalau Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am, 6: 17)

Dengan iktikad akan hal-hal ghaib seperti ini, maka akan muncul keberanian pada diri seorang muslim. Keberanian ini dibentengi oleh keimanan dan ke tawakkal-an pada Allah swt.

Al-Mujahadatu ‘alal Khauf (Menaklukkan Rasa Takut)

Rasa takut bekerjsama merupakan sifat yang dimiliki oleh setiap manusia. Misalnya takut ketinggian, takut tenggelam, takut terbakar ataupun ketakutan yang lainnya. Namun, ketakutan ini harus berada dibawah Khauf Syar’i takut kepada Allah Ta’ala.

Setiap rasa takut yang muncul pada dirinya, beliau akan memasrahkannya kepada Allah Ta’ala. Dengan begitu, beliau akan mampu mengendalikan rasa takutnya. Melawan ketakutan akan kedzaliman menjadi salah satu pembuktian kesungguhan dalam taat dan keimanan.

Allah Ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kau berperang, padahal berperang itu yaitu sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kau membenci sesuatu, padahal beliau amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kau menyukai sesuatu, padahal beliau amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 216)

Pentingnya Tauritsul Khairiyyah (Pewarisan Kebaikan)

Jika kita menginginkan penerus kita menjadi seseorang yang pemberani melawan kebathilan, maka wariskanlah sifat tersebut kepada mereka. Bagaimana caranya? Dengan menawarkan acuan dan acuan kepada mereka mengenai keberanian.

Abul Ala Al Maududi menegaskan bahwa untuk mendapatkan keturunan dan generasi yang lebih baik, maka jangan lakukan sifat-sifat rendahan kepada mereka. Berikan contoh yang baik kepada mereka.

Ingatlah, kebaikan akan mewariskan suatu kebaikan. Keburukan akan mewarisi suatu keburukan pula.

Ash-Shabru ‘ala Ath-Tha’ah (Bersabar dalam Ketaatan)

Kokohnya sifat keberanian ini ditopang oleh kesabaran dalam diri. Tanpa kesabaran, keberanian hanyalah bentuk emosi semata.

Ketika syaja’ah ditegakkan, tentu akan muncul tantangan, ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, seimbangkanlah antara kesabaran dan keberanian.

Dalam suatu hadits dari Khabab, ia berkata:

أَتَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ مُتَوَسِّدًا بُرْدَةً لَهُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَنَا وَاسْتَنْصِرْهُ قَالَ فَاحْمَرَّ لَوْنُهُ أَوْ تَغَيَّرَ فَقَالَ لَقَدْ كَانَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ حُفْرَةٌ وَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ مَا يَصْرِفُهُ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عَظْمٍ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ عَنْ دِينِهِ وَلَيُتِمَّنَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخْشَى إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

“Kami mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat ia berada di bersahabat ka’bah dengan selimut isu terkini dinginnya, kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah untuk kami dan mintalah tolong padanya!’ Khabab berkata, ‘Maka wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah merah. Beliau lalu bersabda: ‘Sungguh telah berlalu pada orang-orang sebelum kalian seorang yang digalikan lubang untuknya, kemudian diletakkan gergaji di atas kepalanya hingga membelahnya, namun hal itu tidak merubah keyakinannya. Ada yang disisir dengan sisir besi panas hingga terkoyak dagingnya, namun itu tidak mengubah dari agamanya. Dan sungguh, benar-benar Allah Tabaaraka Wa Ta’ala akan menyempunakan urusan (agama) ini sampai ada seorang pengendara berjalan dari Shan’a menuju Hadarmaut dalam keadaan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau kawatir kambingnya akan dimakan serigala. Akan tetapi kalian terburu-buru.” (HR. Ahmad)

Keyakinan pada Al-Ajru min Allah (Pahala dari Allah Ta’ala)

Dengan selalu mengharap ridha dan pahala dari Allah swt membuat seorang muslim menjadi seseorang yang pemberani. Ia akan tetap berkomitmen untuk berinfak dan berjuang di jalan Allah.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyampaikan: ‘Tuhan kami yakni Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan menyampaikan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kau dengan (memperoleh) nirwana yang telah dijanjikan Allah kepadamu’”. (QS. Al-Fushilat, 41: 30)

Demikianlah pembahasan kita mengenai salah satu sifat yang perlu dimiliki oleh seorang muslim, adalah Syaja’ah. Semoga bermanfaat untuk sahabat-sahabat.

Untuk membaca lebih lengkap mengenai pembahasan agama islam, Kamu dapat mengunjungi alhadiibrahim.com

Mengenal Sifat Qana’Ah


Sifat Qana’ah – Dalam menjalani kehidupan, seringkali kita tidak qana’ah. Kita merasa tak pernah puas untuk memenuhi cita-cita dan hasrat kita. Selalu merasa ada yang kurang pada hal-hal yang sudah kita dapatkan.

Selalu merasa iri pada suatu hal yang didapatkan orang lain dan tidak kita dapatkan. Kita lupa untuk bersyukur akan nikmat Allah Ta’ala yang sudah diberikan pada kita setiap harinya.

Hal diatas memang salah satu kecenderungan dari sifat dasar manusia. Dimana manusia cenderung tak pernah puas akan hal-hal yang sudah dia dapatkan.

Meskipun hal tersebut manusiawi, namun dalam islam hal tersebut tidak dianjurkan. Rasullullah saw. telah mengajarkan umatnya bagaimana cara menyikapi mengenai harta benda, adalah dengan bersifat Qana’ah (Puas dan Rela).

Qana’ah inilah yang akan kita bahas secara lengkap pada kesempatan kali ini. Mari pribadi kita bahas satu per satu.

Pengertian Sifat Qana’ah

Pengertian Qana'ah

Hidup Qana’ah (sumber:bimbinganislam.com)

Qana’ah yaitu suatu sikap rela menerima dan merasa cukup dengan hasil yang didapatkan. Dengan mempunyai rasa qana’ah, ia akan dijauhkan dari merasa kekurangan dan tidak puas.

Kerelaan seseorang akan hasil yang didapatkan merupakan hasil dari menerima segala hal yang sudah menjadi ketentuan Allah Ta’ala. Namun, bukan berarti seseorang hanya bersikap pasif untuk menunggu tanpa berikhtiar.

Justru perilaku ini muncul sesudah dia melaksanakan perjuangan terbaiknya dalam suatu hal. Masalah risikonya, beliau akan rela dan cukup akan hasil yang didapatkannya.

Sifat Qana’ah yaitu salah satu sifat muslim yang perlu dimiliki oleh kita. Jangan sampai, hanya alasannya dunia kita melupakan darul baka.

Dalil Mengharuskan Sifat Qana’ah

Dalil Qana'ah

Dalil Qana’ah (sumber:tebuireng.online)

Sifat qana’ah ini harus dimiliki oleh semua umat muslim. Dengan memiliki sifat ini, kita akan selalu merasa cukup dengan apa yang kita miliki dan kita takkan pernah merasa iri dengan sesuatu yang orang lain miliki.

Selain itu, hati kita juga akan merasa hening dan selalu bersyukur.

Dalam salah satu hadits-nya, Rasulullah saw. bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani menyampaikan bahwa hadits ini shahih).

Untuk seseorang yang mempunyai sifat qana’ah, Allah Ta’ala pun akan menunjukkan akhirnya. Allah akan memberikan kita kehidupan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka bekerjsama akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl:97)

Sifat Qana’ah

Sikap Qana'ah

Sikap Qana’ah (sumber:thepfa.com)

Sikap qana’ah ini berhubungan dekat dengan rasa syukur. Perbedaannya, sikap qana’ah lebih mengedepankan pada rasa rela mendapatkan ketentuan Allah Ta’ala. Adapun rasa syukur, mengedepankan rasa terima kasih dan cita-cita kepada Allah Ta’ala.

Kedua sikap ini saling terkait dan berjalan beriringan.

Meskipun dikatakan rela, namun perilaku ini tidak serta merta membuat kita mendapatkan tanpa berusaha. Justru rasa qana’ah ini muncul sehabis berikhtiar semaksimal mungkin sebelumnya.

Selain itu, janganlah kita memandang keatas untuk urusan dunia. Pandanglah kebawah kepada orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita. Dengan mirip itu, maka sifat qana’ah dan rasa syukur akan tertanam besar lengan berkuasa dalam diri kita.

Sebaliknya, pandanglah keatas untuk urusan darul baka. Dengan seperti itu, maka kita doktrin kita akan selalu menguat dan lebih bersemangat dalam berinfak saleh.

Rasulullah saw. bersabda dalam salah satu haditsnya, yang berbunyi:

عن ابى هريرة رضى الله عنه : انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عليكم. (متفق عليه

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam duduk perkara harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam dilema ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim, no. 2963).

Manfaat Memiliki Sifat Qana’ah

Manfaat Qana'ah

Manfaat Qana’ah (sumber:pinterest.com)

Dengan memiliki sifat qana’ah, kita juga akan menerima beberapa manfaat yang mampu dirasakan baik di dunia maupun di akhirat. Berikut beberapa manfaat yang mampu kita miliki.

Mendapatkan Dunia Seluruhnya

Manfaat pertama yang mampu didapatkan dengan rasa qana’ah yakni memiliki dunia seluruhnya.

Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan tubuh, dan memiliki kuliner pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).

Menjadi Orang yang Beruntung

Manfaat selanjutnya dari sifat qana’ah adalah menjadi salah satu orang yang beruntung di mata Allah Ta’ala dan Rasulullah saw.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).

Praktis Bersyukur

Seperti yang sudah disinggung diatas, dengan mempunyai sifat qana’ah akan menciptakan kita selalu bersyukur akan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Sebagaimana hadits yang sudah disebutkan diatas (HR. Muslim, no. 2963)

Menjauhkan dari Sifat Hasad (Iri dan Cemburu akan Nikmat Orang Lain)

Jika kita sudah merasa cukup akan nikmat Allah yang telah diberikan, kenapa kita bisa cemburu dengan nikmat yang orang lain rasakan?

Dengan adanya sifat qana’ah yang membentengi kita, rasa iri dan cemburu akan nikmat orang lain itu sudah tidak akan mungkin ada.

Sifat hasad yakni salah satu sifat yang dilarang dimiliki oleh umat muslim. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang menjadi target hasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).

Adapun menurut kebanyakan ulama, hasad ialah menginginkan suatu nikmat orang lain itu hilang. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 17:269)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيُصِيْبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا دَاءُ الأُمَمِ ؟ قَالَ : الأَشْرُ، وَالْبَطْرُ والتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُوْنَ الْبَغْيُ

Umatku akan ditimpa penyakit banyak sekali umat.” Para sobat berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja penyakit umat-umat (terdahulu)?” Rasulullah berkata, “Kufur Nikmat, menyalahgunakan nikmat, saling berlomba memperbanyak dunia, saling berbuat najsy (mengelabui dalam penawaran, pen.), saling memusuhi, dan saling hasad-menghasadi sampai timbulnya sikap melampaui batas (kezaliman).” (HR. Al-Hakim, 4: 168 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 2/275/9173. Al-Hakim menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk perawi Imam Muslim. Imam Adz-Dzahabi menyetujui sanadnya yang shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 680)

Mengatasi Berbagai Problema Hidup

Seseorang yang mempunyai sifat qana’ah, dia akan menyesuaikan kebutuhan hidupnya dengan standar kemampuan yang dia miliki. Dengan memiliki batas yang tepat, maka dia tidak akan berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Terakhir, perlu diingat bahwa orang yang memiliki sifat qana’ah ialah orang-orang yang terpuji dan beruntung. Bahkan, Rasulullah saw. meminta sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dalam salah satu do’anya.

Berikut salah satu do’a yang Rasulullah saw. pernah lantunkan.

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَ

Ya Allah, saya meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721, dari ‘Abdullah).

Demikianlah pembahasan kita mengenai sifat Qana’ah yang perlu kita miliki dan selalu jaga. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

Untuk mendapatkan bahasan-bahasan menarik seputaran agama islam, Kamu juga mampu mengunjungi majelisazzikra.com.