Melongok Upaya Sony Rebound di Pasar Smartphone

Melongok Upaya Sony Rebound di Pasar Smartphone


Jakarta, Selular.ID – Sony memperkirakan bisnis selularnya akan menghasilkan keuntungan pada tahun fiskal 2020 (tahun hingga akhir Maret 2021) setelah mencatat kinerja positif di kuartal pembukaan.

Dalam tiga bulan pertama hingga akhir Juni 2020, unit Komunikasi Selular menghasilkan pendapatan operasional sebesar JPY11 miliar ($ 104,1 juta), naik dari JPY1 miliar pada Q1 fiskal 2019. Namun penjualan turun 6,4 persen menjadi JPY94,2 miliar.

Pendapatan divisi Produk dan Solusi Elektronik, yang mencakup bisnis selular, juga turun 31,4 persen menjadi JPY331,8 miliar.

Tentang pendapatan dan proyeksinya, CFO Sony Hiroki Totoki mengatakan rantai pasokan di segmen mobile hampir sepenuhnya pulih dan permintaan pelanggan mulai menunjukkan peningkatan.

Meski menunjukkan tanda-tand kebangkitan, Hiroki menyebutkan bahwa, pihaknya sedang mempersiapkan gelombang lebih lanjut Covid-19 (virus corona) dengan mengubah struktur bisnis, merombak operasi dan lebih merampingkan, sekaligus meningkatkan saluran distribusi e-commerce.

Pada tingkat grup, laba bersih tumbuh 53,4 persen menjadi JPY233,3 miliar dan pendapatan operasional naik 2,2 persen menjadi JPY1,97 triliun, dipimpin oleh kenaikan kuat dalam bisnis layanan game dan keuangannya. Kinerja bisnis pencitraan, musik dan film juga dipengaruhi oleh tindakan penguncian (lockdown) di banyak negara.

Sony memperkirakan penjualan setahun penuh akan datar di JPY8,3 triliun dan pendapatan operasional akan turun JPY225,5 miliar menjadi JPY620 miliar.

Tanda-tanda divisi mobile Sony akan membaik, sejatinya mulai terlihat pada akhir 2019. Saat mengeluarkan laporan keuangan untuk kuartal fiskal ketiga (periode Oktober-Desember), kinerja divisi tersebut tidak seburuk yang diperkirakan.

Sony berhasil menjual 1,3 juta smartphone, atau dua kali lebih banyak dari kuartal sebelumnya, yang hanya sekitar 600.000. Namun laporan ini menunjukkan penurunan 20% dalam laba setiap triwulan karena penjualan sensor pencitraan yang lemah atau konten dari departemen hiburan.

Upaya Sony untuk rebound di pasar smartphone menjadi babak baru perjuangan raksasa elektronik Jepang itu, bertahan di tengah persaingan antar vendor ponsel semakin ketat. Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja Sony memang mengkhawatirkan.

Raksasa Jepang itu, mencatat rekor penurunan penjualan. Babak belurnya divisi mobile, membuat masa depan bisnis smartphone yang telah mereka geluti sejak lama, terus menjadi bahan spekulasi. Tak sedikit investor yang meminta agar Sony  membatalkan bisnis smarphone sebagai akibat dari kinerja yang buruk.

Faktanya Sony tidak mengimbangi mampu vendor-vendor China yang semakin agresif. Padahal merek-merek China seperti Oppo, Vivo, Huawei, Xiaomi, baru menunjukkan tajinya di pasar, antara 5-10 tahun.

Bandingkan dengan Sony yang sudah kelotokan di bisnis ini. Tercatat, Sony masuk ke bisnis ponsel pertama kali pada 2001, saat perusahaan bermitra dengan vendor Swedia, Ericsson. Kebangkitan vendor-vendor China, membuat Sony seperti anak kemarin sore dalam bisnis smartphone.

Anjloknya Sony di pasar smartphone sebenarnya sudah terasa sejak 2015. Periode itu, unit mobile mulai merugi, padahal sebelumnya, divisi ini menjadi salah satu lumbung pemasukan bagi Sony.

Hingga akhir Maret 2019 unit smartphone Sony mencatat kerugian operasi sebesar JPY97,1 miliar ($ 879,9 juta). Dalam periode itu, Sony hanya mampu mengirim 6,5 juta handset, dengan pangsa pasar kurang dari 1 persen.

Sebelumnya Sony memperkirakan dapat menjual 10 juta smartphone sepanjang 2018. Beberapa bulan kemudian, perusahaan merevisi angkanya menjadi 9 juta dan kemudian menjadi 7 juta.

Januari 2019, kembali perusahaan merevisi menjadi hanya 6,5 juta. Ternyata itulah angka sebenarnya seluruh smartphone yang dikirimkan Sony selama periode 12 bulan. Angka itu sangat jauh dari hampir 40 juta smartphone yang dijual Sony pada 2014.

Meski mengalami kerugian yang signifikan, namun Sony tidak berniat untuk menyuntik mati divisi smartphone. Lantas apa yang menyebabkan Sony tetap berupaya eksis di bisnis ini?

Rupanya Sony yakin datangnya era 5G perlu tetap ditunjang dengan produksi ponsel sendiri.

“5G penting bagi strategi smartphone kita di masa depan. 5G adalah teknologi dengan potensi luar biasa karena bisa mengkoneksikan semua perangkat portabel ke cloud. Untuk benar-benar memanfaatkan teknologi ini kita perlu mempertahankan kapabilitas riset dan menciptakan aplikasi yang berhubungan,” kata Hiroki Totoki.

“Dengan terus mengerjakan 5G di bisnis smartphone, kita bertujuan untuk mengembangkan teknologi 5G sebagai sebuah kompetensi yang dapat digunakan di seluruh grup Sony,” tambah Hiroki.

Sony pun menargetkan divisi smartphone bisa meraih untung pada 2021. Caranya antara lain dengan memindahkan pabrik dari China ke Thailand. Langkah tersebut dengan sendirinya, memangkas ribuan pekerja.

Selain itu, perusahaan juga menggabungkan unit mobile menjadi bagian dari divisi Electronics Products & Solutions mulai 1 April 2019. Dengan langkah restrukturisasi tersebut, Sony berharap dapat memangkas pos-pos pengeluaran hingga 50%.

Dengan berbagai langkah strategis, Sony meyakini bahwa mereka akan kembali diperhitungkan dalam bisnis smartphone khususnya di era 5G, seperti halnya saat mereka berjaya pada periode transisi dari 2G ke 3G.



kupakai.com