Pengertian, Dalil, Macam, Penerapan [Lengkap]


Syaja’ah – Sudah pahamkan kalian mengenai sifat Syaja’ah? Untuk lebih memahaminya, mari kita bahas sikap syaja’ah ini mulai dari pengertian syaja’ah secara lengkap sampai penerapannya di kehidupan kita.

Dalam menjalani kehidupan di dunia, tentu ada pasang surutnya. Mulai dari kebahagiaan hingga kesedihan niscaya kita pernah alami. Hal tersebut memang sebuah kewajaran saat kita hidup.

Namun, meskipun sudah memahami konsepnya, terkadang rasa takut tersebut memang muncul tanpa sepengetahuan kita. Karena hal itulah, kita harus mempunyai sifat syaja’ah dalam diri kita.

Syaja’ah merupakan salah satu sikap terpuji yang mampu membantu kita dalam menghadapi kesulitan hidup.

Lantas, apa itu syaja’ah? Seberapa pentingkah syaja’ah untuk kehidupan kita? Simak jawabannya dibawah ini.

Pengertian Syaja’ah

Sebelum mengenal secara lebih mendalam, mari kita pahami sifat syaja’ah ini dari pengertiannya terlebih dahulu, baik itu menurut bahasa maupun istilah.

Syaja’ah Menurut Bahasa

Menurut bahasa, syaja’ah dalam bahasa Arab memiliki arti berani atau teguh. Syaja’ah adalah sifat pertengahan antara AlJubn (Pengecut) dan Tahawwur (Berani tanpa Perhitungan).

Syaja’ah Menurut Istilah

Adapun berdasarkan istilah, Syaja’ah artinya keteguhan hati dan kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan hal yang benar secara bijaksana dan terpuji.

Sikap syaja’ah menjadi salah satu ciri yang perlu dimiliki oleh orang yang istiqomah di jalan Allah. Mereka akan berani menyampaikan kebenaran walaupun itu pahit. Hal ini alasannya mereka yakin dengan derma Allah.

Imam Syahid Hasan Al-Banna mendefinisikan Syaja’ah sebagai ‘Azhimul Ihtimal yang artinya besarnya daya pikul dan daya tahan. Ia akan bersabar ketika diberi ujian, dan ia akan bersyukur ketika beliau diberi kenikmatan.

Dalil Syaja’ah

Syaja’ah sangat disarankan untuk menjadi salah satu sifat yang dimiliki oleh orang muslim.

Allah swt. Berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), kalau kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S Ali Imran: 139)

Pada ayat tersebut, Allah melarang umat manusia untuk memiliki sikap lemah. Kita diharuskan mempunyai perilaku berani.

Hal ini alasannya adalah manusia ialah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah jikalau dibandingkan dengan makhluk lainnya. Selain itu, insan juga akan memiliki kedudukan tertinggi apabila beriman dan bertakwa pada Allah.

Dalam kehidupan ketika ini, berbagai ditemukan kecurangan-kecurangan yang terjadi. Jika umat islam mempunyai sifat syaja’ah, maka ia akan berani melaporkan hal tersebut, meskipun hal tersebut mampu saja membawa beliau dalam bahaya.

Allah swt. berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: “maka tetaplah kau pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia maha melihat apa yang kau kerjakan.” (Q.S Hud: 112)

Macam Macam Syaja’ah

Syaja’ah terbagi kedalam 2 macam, antara lain:

Syaja’ah Harbiyyah

Syaja’ah Harbiyyah yaitu bentuk keberanian yang tampak secara eksklusif. Misalnya keberanian kaum muslimin zaman dahulu untuk berjihad (perang) demi membela agama.

Syaja’ah Nafsiyyah

Syaja’ah Nafsiyyah ialah keberanian secara mental seseorang. Ia akan berani dalam menghadapi bahaya dan penderitaan jika hal tersebut demi menegakkan keadilan.

Perwujudan Sikap Syaja’ah

Dari kedua macam sifat syaja’ah diatas, syaja’ah mampu terimplementasikan menjadi beberapa bentuk. Berikut diantaranya:

Quwwatul Ihtimal (Daya Tahan yang Besar)

Seseorang terbukti mempunyai sifat syaja’ah ketika dia mampu bersabar dan siap untuk menghadapi kesulitan, penderitaan, ancaman, ataupun yang lainnya ketika berjuang di jalan Allah SWT.

Banyak cerita-kisah perjuangan para teman yang menceritakan perihal citra hal ini. Misalnya saja Bilal bin Amr bin Yasir yang mengalami penyiksaan supaya mengingkari keimanannya. Namun, ia tetap teguh pada keimanannya.

Ash-Sharahah fil Haq (Terus Terang dalam Kebenaran)

Berani untuk berterus jelas dalam kebenaran menjadi salah satu implementasi lainnya dari sifat syaja’ah (berani). Abu Dzar r.a pernah diberi wejangan oleh Rasulullah saw. Diantara wejangannya yaitu:

قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

“Katakan kebenaran, sekalipun itu pahit” (HR. Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 4737)

Kitmanu As-sirri (Memegang Rahasia)

Dalam memegang diam-diam, tentunya butuh keberanian pada diri kita. Apalagi gosip yang kita pegang tersebut terindikasi berbahaya jika ada kebocoran. Dengan menjaga belakang layar, seseorang juga menjaga amanah yang telah diberikan oleh orang lain.

Di kalangan sobat Rasulullah saw pun tidak banyak yang dipercaya sebagai pemegang rahasia. Salah satu sobat yang mampu menjaga rahasia yakni Hudzaifah Ibnul Yaman ra. yang sangat dikenal akan dengan sebutan Shahibus Sirri (pemegang belakang layar).

Hudzaifah ialah teman yang Rasulullah beritahukan mengenai semua orang-orang munafik yang ada. Selama hidupnya, Hudzaifah ini menjaga informasi mengenai hal ini bahkan kepada khalifah yang sedang menjabat saat itu (Khalifah Umar).

Al-I’tirafu bil Khatha’i (Mengakui Kesalahan)

Orang yang siap dan mau mengakui kesalahannya menjadi salah satu ciri orang yang memiliki sifat syaja’ah (berani).

Mengakui kesalahan memang tidak gampang. Kita harus siap untuk dicaci, dimaki, dikucilkan ataupun hal lain yang diakibatkan alasannya kesalahan yang pernah kita perbuat.

Dibutuhkan keberanian yang besar untuk mengakui kesalahan dan siap untuk menerima konsekuensi atas kesalahan yang kita lakukan tersebut.

Al-Inshafu min Adz-Dzati (Bersikap Objektif pada Diri Sendiri)

Ada sebagian orang yang menganggap dirinya lebih dari orang lain (over confidence). Ada juga sebagian orang yang menganggap dirinya lebih udik dibandingkan orang lain (under confidence).

Jika hal tersebut muncul dalam diri seseorang, tentunya tidak proporsional dan tidak objektif terhadap diri sendiri. Orang yang bersifat syaja’ah akan menilai dirinya secara objektif dan meyakini bahwa dirinya memiliki kekurangan dan kelebihan.

Milku An-Nafsi ‘inda Al-Ghadhabi (Menguasai Diri Saat Marah)

Salah satu ciri orang yang memiliki sifat syaja’ah yaitu ketangguhan ia dalam melawan hawa nafsu dan amarah. Meskipun dalam kondisi yang emosional, dia masih dapat berpikir jernih.

Ia bisa melampiaskan kemarahannya, namun beliau arahkan pada hal yang sesuai.

Cara Menanamkan Sikap Syaja’ah

Ada beberapa cara untuk menanamkan sifat keberanian ini kepada diri kita. Antara lain:

Al-Imanu bil Ghaib (Iman Kepada yang Ghaib)

Dengan kepercayaan kepada hal yang ghaib, kita akan yakin terhadap pertolongan Allah.

Allah berfirman:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Jika Allah menolong kau, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jikalau Allah membiarkan kau (tidak memberi derma), maka siapakah gerangan yang mampu menolong kau (selain) dari Allah sehabis itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal.” (QS. Ali Imran, 3: 160)

Selain yakin akan tunjangan Allah, beliau pun akan percaya akan apapun yang sudah ditentukan oleh Allah.

Allah berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan kalau Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan bila Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am, 6: 17)

Dengan dogma akan hal-hal ghaib mirip ini, maka akan muncul keberanian pada diri seorang muslim. Keberanian ini dibentengi oleh keimanan dan ke tawakkal-an pada Allah swt.

Al-Mujahadatu ‘alal Khauf (Menaklukkan Rasa Takut)

Rasa takut sebenarnya merupakan sifat yang dimiliki oleh setiap insan. Misalnya takut ketinggian, takut karam, takut terbakar ataupun ketakutan yang lainnya. Namun, ketakutan ini harus berada dibawah Khauf Syar’i takut kepada Allah Ta’ala.

Setiap rasa takut yang muncul pada dirinya, ia akan memasrahkannya kepada Allah Ta’ala. Dengan begitu, beliau akan mampu mengendalikan rasa takutnya. Melawan ketakutan akan kedzaliman menjadi salah satu pembuktian kesungguhan dalam taat dan keimanan.

Allah Ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kau berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kau tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 216)

Pentingnya Tauritsul Khairiyyah (Pewarisan Kebaikan)

Jika kita menginginkan penerus kita menjadi seseorang yang pemberani melawan kebathilan, maka wariskanlah sifat tersebut kepada mereka. Bagaimana caranya? Dengan menunjukkan contoh dan contoh kepada mereka mengenai keberanian.

Abul Ala Al Maududi menegaskan bahwa untuk menerima keturunan dan generasi yang lebih baik, maka jangan lakukan sifat-sifat rendahan kepada mereka. Berikan teladan yang baik kepada mereka.

Ingatlah, kebaikan akan mewariskan suatu kebaikan. Keburukan akan mewarisi suatu keburukan pula.

Ash-Shabru ‘ala Ath-Tha’ah (Bersabar dalam Ketaatan)

Kokohnya sifat keberanian ini ditopang oleh kesabaran dalam diri. Tanpa kesabaran, keberanian hanyalah bentuk emosi semata.

Ketika syaja’ah ditegakkan, tentu akan muncul tantangan, ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, seimbangkanlah antara kesabaran dan keberanian.

Dalam suatu hadits dari Khabab, beliau berkata:

أَتَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ مُتَوَسِّدًا بُرْدَةً لَهُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَنَا وَاسْتَنْصِرْهُ قَالَ فَاحْمَرَّ لَوْنُهُ أَوْ تَغَيَّرَ فَقَالَ لَقَدْ كَانَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ حُفْرَةٌ وَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ مَا يَصْرِفُهُ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عَظْمٍ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ عَنْ دِينِهِ وَلَيُتِمَّنَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخْشَى إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

“Kami mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di akrab ka’bah dengan selimut trend dinginnya, kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah untuk kami dan mintalah tolong padanya!’ Khabab berkata, ‘Maka wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah merah. Beliau kemudian bersabda: ‘Sungguh telah berlalu pada orang-orang sebelum kalian seorang yang digalikan lubang untuknya, kemudian diletakkan gergaji di atas kepalanya sampai membelahnya, namun hal itu tidak merubah keyakinannya. Ada yang disisir dengan sisir besi panas hingga terkoyak dagingnya, namun itu tidak mengubah dari agamanya. Dan sungguh, benar-benar Allah Tabaaraka Wa Ta’ala akan menyempunakan urusan (agama) ini hingga ada seorang pengendara berjalan dari Shan’a menuju Hadarmaut dalam keadaan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau kawatir kambingnya akan dimakan serigala. Akan tetapi kalian terburu-buru.” (HR. Ahmad)

Keyakinan pada Al-Ajru min Allah (Pahala dari Allah Ta’ala)

Dengan selalu mengharap ridha dan pahala dari Allah swt membuat seorang muslim menjadi seseorang yang pemberani. Ia akan tetap berkomitmen untuk berinfak dan berjuang di jalan Allah.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyampaikan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ lalu mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan menyampaikan): ‘Janganlah kau merasa takut dan janganlah kamu merasa murung; dan bergembiralah kau dengan (memperoleh) nirwana yang telah dijanjikan Allah kepadamu’”. (QS. Al-Fushilat, 41: 30)

Demikianlah pembahasan kita mengenai salah satu sifat yang perlu dimiliki oleh seorang muslim, yakni Syaja’ah. Semoga bermanfaat untuk teman-teman.

Untuk membaca lebih lengkap mengenai pembahasan agama islam, Kamu mampu mengunjungi alhadiibrahim.com