Sekilas Ihwal Pendidikan

Setelah membaca artikel di http://www.topix.com/lembaga/world/TL1LF7NU34E1F0VA6  saya sangat terkejujt, bukan berarti benci, bukan berarti murka kepada Malaysia. Tetapi sangat disayangkan sekali, apakah sudah tidak adalagi Guru Indonesia yang  berkibar dan berkiprah ke luar negeri seperti kala kurun 70 an dulu? Apakah begitu rendahnya pendidikan di Indonesia sehingga Bahasa Indonesia diajarkan bukan oleh orang Indonesia sendiri?
Kalau saya ingat pada waktu aku sekolah SD dulu, guru-guru aku begitu keras mengajarkan perkalian, pembagian, peta buta. Saya disuruh menghafalkan UUD 45, aku harus menghafalkan Butir-Butir Pancasila, dan bahkan sering di setrap di depan kelas, manakala saya tidak bisa menunjukkan nama kota propinsi pada sebuah peta buta di depan kelas. Boro-boro laptop, kalkulator saja tidak ada, semua serba manual, serba jadul, serba kuno. Yang saya baca setiap hari hanya sebuah buku terbitan Balai Pustaka (Buku Cetak) yang sudah usang sebab berganti generasi dari abang-abang kelas saya sebelumnya. Ada sebuah pelajaran PMP,
dimana tata krama, akhlak sangat berperan waktu itu. Bahkan jika PMP nilai jelek, maka semua pelajaran akan hangus dan tidak naik kelas.Dari gambaran situasi yang serba kuno, dan manual itu, seorang Habibi Lahir  dan Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, sehingga mencapai puncak karier sebagai seorang wakil presiden bidang teknologi. Lahirnya Pratiwi Sudarmono yang menjadi Astronot Nasa pada tahun 1985. dan banyak lagi profesor2 Indonesia  yang andal-mahir, serta guru-guru aku yang pinter-pinter dan luar biasa, bahkan sampai kini aku masih mengagumi ia.
Saat ini, sesudah melihat siswa-siswa di sekolah saya, segala peralatan elektronik canggih, tiap hari membuka internet untuk mencari sumber wawasan (bahkan perpustakaan sekolah menjadi tidak ada peminat), itu ternyata hanya sedikit saja yang bisa memahami dan bercerita kembali perihal apa yang telah diterangkan guru hari ini. Tidak terlihat perintah guru dikerjakan dengan sungguh-sungguh, bahkan tidak sungkan-sungkan melakukan copy paste tanggapan temen yang dianggap baik secara bareng-bareng di depan gurunya.
Apakah itu salah siswanya? Atau gurunya kurang berwibawa? Atau sebab fasilitas sekolah kurang? Ataukan itu penerapan RPP Berkarakter dan Silabus Berkarakter Bangsa?
Bahkan yang lebih disayangkan lagi, anak sudah tergantung dengan kalkulator, laptop untuk menghitung jumlah sampai puluhan saja. Jika ditanya tentang wilayah di satu propinsi saja  jawabannya tidak tahu, atau coba lihat di google saja.
Dari sini terang, siswa-siswa kita adalah orang-orang yang bisa ngerti kalau ada alat bantu, lha jika alat bantu rusak? Ditambah materi Tematik dan pelajaran yang bagian nya semakin lama semakin banyak, tentu anak bukan lagi sebagai seorang pelajar yang mumpuni di pelajarannya, malah jadi bingung alasannya dikejar waktu, dikejar bahan, yang semua harus tamat dalam sekejap.
Ditambah lagi, kurikulum berganti-ganti setiap tahun, guru-guru semakin sibuk menyiapkan perangkat pelajaran yang selalu berubah-ubah, sehingga konsentrasinya bukan lagi ke bagaimana siswa menjadi pinter, tetapi tuntukan sertifikasi yang mewajibkan guru untuk siap perangkat pembelajaran dan waktu 24 jam. Tidak pernah ada kata-kata Guru sertifikasi wajib meningkatkan kemampuan siswa, bakat siswa, prestasi siswa atau menjadi pembina siswa berprestasi baik tingkat kabupaten maupun propinsi sampai berhasil. Atau syarat sertifikasi guru yaitu dengan membuat karya ilmiah sendiri yang mampu dipertanggung jawabkan secara umum (seminar terbuka) yang disaksikan oleh tokoh-tokoh pendidikan baik tingkat dasar, menengah ataupun tinggi, serta harus membina siswa dari awal hingga simpulan sehingga menjadi juara di tingkat propinsi atau nasional.
Toh pada kenyataanya, setelah mereka dapat sertifikasi, semakin males bekerja (tidak sesemangat dikala mau mencari sertifikasi).
Nah… dari sini apakah Negara Indonesia salah? Menteri Pendidikan Salah? atau Dewan pendidikan salah?
Kalau menurut aku (tidak ada ajaran apa2), yang salah bukan negaranya, bukan mentrinya, tapi yang menyetujui sistem ini dilakukan di Indonesia.
Padahal dari dulu sistem pendidikan kuno, pernah membuat Guru-Guru Indonesia diekspor ke Malaysia, Brunai Darussalam, Thailand dan negara-negara lain. Dan bahkan aneka macam orang-orang dari luar negeri ingin berguru di Indonesia. Tetapi kini, Guru-guru Indonesia seolah tidak dihargai di negara lain, dan bahkan kita dicap sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan yang jelek.
Marilah kita sadar….. bahwa sistem pendidikan kita ketika ini sengaja merusak pola, merusak kekuatan, merusak kemampuan kita, dengan aneka macam sistem uji coba, yang ternyata itu semua tujuannya hanyalah untuk membuat konsentrasi kita untuk menciptakan bangsa lebih terpelajar menjadi buyar, dan kita selalu ada dalam kebingunan mencari sistem-sistem baru yang tepat, yang canggih, yang ahli (promosinya).
Ayo… kita kembalikan pendidikan Indonesia mirip dulu, yang membuat kita berbangga di Mata Dunia, yang melahirkan tokoh-tokoh andal kita di luar negeri, yang membuat Guru dari Indonesia dijunjung tinggi di negara lain, dan membuat siswa-siswa kita menjadi benar-benar paham dengan apa yang pelajarinya.