ZTE Raih Predikat “Best Practice for 5G Network” di Ajang Selular Award 2020

ZTE Raih Predikat “Best Practice for 5G Network” di Ajang Selular Award 2020


Jakarta, Selular.ID – Implementasi 5G di Indonesia mungkin tidak secepat negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Thailand. Sekedar diketahui, keempat negara itu bersiap untuk menggelar 5G pada 2021 mendatang.

Memang harus diakui, saat ini operator di Indonesia masih dalam upaya memonetisasi layanan 4G. Di sisi lain, persoalan yang juga sangat krusial, yakni menyangkut ketersediaan frekwensi juga masih menjadi misteri. Di mana frekwensi 5G kelak ditempatkan belum diputuskan oleh Kemenkominfo hingga kini.

Meski demikian, berbagai kalangan tetap optimis bahwa kehadiran teknologi 5G diperkirakan dapat diimplementasikan lebih cepat. Pasalnya, berkat teknologi 4G, ekosistem mobile broadband di Tanah Air sudah berkembang jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Tumbuhnya ekosistem mobile broadband tentunya akan mendorong pemanfaatan 5G yang jauh lebih bervariasi. Mulai dari koneksi untuk otomatisasi mesin pabrikan melalui Internet of Things (IoT), implementasi surveillance melalui pantauan virtual reality, pemanfaatan fitur augmented reality yang lebih beragam, dan lainnya.

Tak dapat dipungkiri, jaringan 5G dapat merevolusi model layanan pelanggan tradisional. Berkat teknologi 5G pendapatan operator selular di Asia Tenggara dapat terdongkrak hingga 12% per tahun pada 2025.

Berdasarkan laporan hasil studi yang berjudul “5G in ASEAN: Reigniting Growth in Enterprise and Consumer Markets” yang dirilis oleh A.T Kearney Analysis, Indonesia adalah negara dengan potensi pendapatan tertinggi saat 5G diterapkan di bandingkan negara Asia Tenggara lainnya.

Pada 2025, atau saat 5G diperkirakan sudah beroperasi di Indonesia, pendapatan operator selular di Indonesia diprediksi menyentuh US$1,4 miliar — US$1,83 miliar. Mayoritas pendapatan tersebut disumbangkan pada skema business to business (B2B), disusul segmen business to customer (B2C) dan fixed wireless access .

Dapat disimpulkan bahwa peluang pendapatan terbesar terkait 5G untuk operator, terletak di sektor manufaktur, energi, dan utilitas. Prinsipnya, kehadiran 5G akan memberikan nilai tambah yang lebih untuk kita semua, baik dari sisi operator, pelanggan, dan juga ekosistem industri.

Tak pelak dengan proyeksi tersebut, semua vendor jaringan di Indonesia bergegas untuk menyiapkan berbagai langkah strategis agar layanan 5G mereka bisa dimanfaatkan oleh operator. Tak terkecuali dengan ZTE. Vendor yang berbasis di Shenzen itu, sejak beberapa tahun terakhir giat mengkampanyekan pentingnya kehadiran teknologi 5G di Tanah Air.

Tengok saja program “Leading 5G Tour” yang diselenggarakan sejak 2018. Melalui event ini, ZTE berusaha memperkenalkan 5G sejak tahap awal dan komitmen untuk membangun kerja sama dalam mengembangkan teknologi 5G dengan operator-operator telekomunikasi di Indonesia.

Di tengah kompetisi pasar yang ketat dengan vendor sejenis, ZTE telah menjadi yang terdepan dalam teknologi 5G serta proses pra-komersialisasinya. Dengan produk dan teknologi yang dimiliki, ZTE ingin memfasilitasi para mitra operator untuk menyebarkan jaringan secara cepat dan mengambil langkah awal dalam komersialisasi 5G yang akan datang.

Semua itu dapat tercapai karena ZTE berinvestasi besar-besaran dalam standardisasi 5G dan riset & pengembangan produk, dan menghasilkan wawasan mendalam terhadap teknologi 5G. Sekedar diketahui, perusahaan menggandakan pengeluaran R&D rata-rata 10 persen dari pendapatan global menjadi 14,6 persen pada September 2019. Ke depan perusahaan menargetkan tingkat investasi R&D menjadi 15 persen.

ZTE juga telah mendaftarkan 2.561 paten 5G ke European Telecommunications Standards Institute. Jumlah itu merupakan yang ketiga terbanyak oleh vendor sejenis.

Hingga kuartal ketiga 2019, perusahaan telah menandatangani 46 kontrak komersial 5G di seluruh dunia. Tersebar mulai dari China, Eropa, Asia Pasifik, dan Timur Tengah.

Mengupayakan pengembangan 5G selama bertahun-tahun, ZTE telah meluncurkan serangkaian all-band 5G AAU yang berorientasi komersial, 5G transport, 5G core network, perangkat 5G, dan solusi 5G hulu ke hilir lainnya untuk mempersiapkan komersialisasi 5G skala besar.

Seri lengkap base station 5G milik ZTE dapat digunakan dalam berbagai skenario 5G, membantu operator membangun jaringan 5G dengan cakupan luas, kapasitas tinggi, penyebaran cepat, namun tetap hemat biaya.

Dalam hal arsitektur, solusi fleksibel ZTE mampu memenuhi persyaratan operator pada berbagai tahap penerapan 5G, dari mode SA (stand-alone) ke mode NSA (non-stand-alone).

Inovasi terbaru dalam pengembangan teknologi 5G yang dikembangkan ZTE adalah platform 5G medical edge cloud pertama di China. Bekerjasama dengan China Mobile, ini merupakan platform intelligent edge cloud 5G pertama di industri yang menggunakan arsitektur jaringan cloud terintegrasi.

Dengan mengintegrasikan teknologi 5G slicing dan komputasi tepi (edge computing), platform 5G medical edge cloud dapat memenuhi kebutuhan koneksi, komputasi, penyimpanan data, middle platform, layanan serta keamanan jaringan dalam industri medis secara terpadu, sehingga memberikan layanan jaringan cloud terintegrasi yang dapat dikelola dan dikendalikan.

Layanan 5G edge cloud dimanfaatkan oleh pengguna untuk melakukan penyingkatan rute jaringan serta mengurangi keterlambatan jaringan secara efektif. Selain itu, koneksi yang sangat andal menjamin kemampuan fitur 5G private network untuk membantu aplikasi medis yang inovatif, seperti diagnosa dan tindak pembedahan jarak jauh, bantuan AI, mobile medicine, serta instruksi pembedahan.

Hingga kini, hampir 100 aplikasi medis internet telah digunakan dalam 5G medical edge cloud untuk mempermudah pasien dalam mengakses beragam layanan medis.

Di Indonesia sendiri, ZTE telah bekerjasama dengan Smartfren dalam menguji coba layanan 5G pada Agustus 2019, di salah satu pabrik Smart Tbk di Marunda, Jakarta Utara.

Uji coba itu menunjukkan salah satu teknologi berbasis 5G yang dikembangkan ZTE dapat diterapkan bagi industri manufaktur guna dapat meningkatkan efisiensi waktu, meminimalkan kecelakaan kerja, serta peningkatan akurasi serta kualitas produk.

Teknologi yang ditunjukkan, adalah dengan memasang 360 camera, yang terkoneksi dengan jaringan 5G ke virtual reality headset, real time di jalur logistik pengiriman barang PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk (PT. SMART, Tbk).

Dengan terus berkomitmen pada inovasi teknologi dan dan rekam jejak keberhasilan komersialisasi teknologi baru, ZTE layak dinobatkan sebagai pemenang “Best Practice for 5G Network” di ajang Selular Awards 2020 yang digelar secara virtual melalui channel Youtube Selular TV (19/8/2020). Selamat untuk ZTE!



kupakai.com